Buku Mahkotah Penulis, Buku Muara Tulisan

 Pelatihan Belajar Menulis  Gelombang 18 sudah masuk pada pertemuan ke- 8. Tak terasa hari demi hari kejar target untuk menulis resume. Awalnya gagap, tidak paham apa yang dimaksud. Ya  sesuai perintah para narasumber, tulis saja, ya tulis saja apa yang terasa tulis, begitulah imbauannya.

Sampailah kepada narasumber yang sudah familiar bagi saya karena sering baca tulisannya di media sosial, Bapak Thamrin Dahlan, SKM,M.Si. Dengan  moderator yang sudah tidak asing bagi peserta yaitu Mbak Ditta Widya Utami yang  akan mengawal acara pelatihan naungan Om Jay ini.

Tak kenal maka tak sayang begitu, tak sayang maka tak cinta begitu  yang kita tahu  selama ini, sekelumit profile Pak Thamrin,  alumni Pasca Sarjana UI, lahir di Jambi 7 Juli 1947, adalah seorang Purnawirawan Polri terakhir bertugas sebagai Direktur Pasca Rehabilitasi BNN dengan Pangkat Kombes Pol. Pekerjaan yang tengah ditekuni dosen dan penulis serta Pendiri Penerbit Yayasan Pustaka Thamrin Dahlan . Beliau bertempat tinggal di kelurahan Duku Kramat Jati Jakarta Timur.

Aktivitas menulis di mulai tahun 2010 dan telah menerbitkan 37 judul buku, saat ini beliau fokus membantu para penulis menerbitkan buku ber ISBN tanpa biaya. Informasi yang baik lagi bagi penulis pemula, membantu bisa menerbitkan buku, tanpa biaya alias gratis.

Narasumber bisa di hubungi pada website terbitbukugratis.id  dan Emeil thamridahlan@gmail.com,  Wa : 08159932527, dan WAG : Terbit Buku Gratis (Media Komunikasi, Informasi Dan Edukasi Literasi YPTD). Moto penulis adalah  Penasehat Penakawan Penasaran.

Pemilik YPTD ini juga aktif di Kompasiana, banyak jenis tulisannya kita temui antara lain yang terbaru, dalam Hari Buku Sedunia, Hadiah Puisi Emak-Emak, Kartini Guru, Pantun Puisi Kartini, dan Mudik Batal dan banyak lagi.  Dalam usia 69 tahun, tak menyurut langkah dan semangat beliau untuk berbagi ilmu  kepada pelatihan Belajar Menulis atau penulis pemula ini.

Semoga Pak Thamrin selalu diberi kesehatan yang prima oleh Allh  SWT , untuk senantiasa berbagi pengalaman, inpiratif  kepada kita semua. Seperti kata beliau “sehat bukan segalanya  namun tanpa kesehatan semuanya menjadi tidak berarti”, keren sekali Pak, apalagi ditengah wabah covid 19 yang melanda saat ini, untuk selalu menjaga kesehatan, agar terhindar dari virus yang berbahaya.

Selanjutnya pemberian materi Pak Thamrin lebih ke diskusi dan tanya jawab. Dalam selebaran PowerPoint beliau,  sesuai judul “Buku Muara Tulisan”, melalui YPTD Pak Thamrin mengakajak semua terutama guru untuk menulis,  karena menurutnya “Sesungguhnya muara menulis itu adalah buku. Karena  buku bersifat abadi dan menjadi alibi tak terbantahkan atas kehadiran  seorang anak manusia di muka Bumi ini “

Tanpa kita sadar lanjut beliau  setiap orang sebenarnya sudah pasti memiliki buku, buku dalam arti tercantumnya nama seseorang dalam sampul, misalnya sampul Raport. Ketika di SMP, SMA, para pelajar dan siswa sudah di wajibkan menyusun karya tulis, walaau itu kerja kelompok, namun jika makalah itu di jilid jadilah sebuah buku.

Pada Perguruan  Tinggi,  kualitas seorang sarjana itu memiliki harkat yang terhormat, sebab telah menerbitkan naskah buku yang dinamai Skripsi, Tesis, dan Disertasi.

“Tulisan-tulisan itu ibarat air mengalir, tetes demi tetes bergabung menjadi satu, mengalir jauh mencari tempat terendah akhirnya bermuara dilautan” . itulah Buku. “Sejatinya buku adalah kumpulan tulisan nan terserak. “Selayaknya karya  gemilang olah pikir perlu diselamatkan menjadi kitab.” Begitu ulasan dari Pak Thamrin, jadi kita sehari hari itu sudah menulis namun masih dalam bentuk kata-kata, hanya saja belum di kumpulkan menjadi naskah buku. Akan menjadi naskah buku, apabila untaian kata kata itu kita satukan menjelma menjadi sebuah buku. Begitu mudahnya membuat buku, hanya saja kita tak menyadarinya. Sekarang dengan adaanya masukan dari Pak Thamrin, kita coba mengumpulkan yang terserak selama ini, ayo kita mulai menulis, benar beliau kumpulah yang terserak itu menjadi alunan simponi kehidupan dalam sebuah buku. Kelak akan dibaca oleh anak cucu kita sebagai bentuk eksistensi kita di bumi Allah ini.

Selanjutnya tanya jawab yang di pandu moderator.

Pada kesempatan ini Pak Thamrin akan berbagi  bagaimana caranya bisa menerbitkan buku secara gratis di Yayasan Pustaka Thamrin Dahlan (YPTD), dengan komitmennya membantu para penulis menerbitkan buku perdana ber ISBN tanpa biaya prosedur sangat sederhana dalam waktu 14 hari buku terbit. Membagiakan sekali informasi ini, hari demi hari informasi dari pemberi materi menggairahkan rasa untuk segera menyelesaikan menulis buku. Rasanya bagi saya dalam beberapa tahun lagi memasuki masa akhir tugas sebagai Abdi Negara, mendapat angin segar karena sudah ada yang menanti dan menampung karya tulis dimana kesibukan itu sudah berkurang, fokus kepada hal-hal yang menyenagkan yaitu menulis buku. Semoga dengan kegiatan ini menjadi berkah untuk lingkungan sekitar.

Ada 3 programYPTD :

1.      Penulis telah memiliki naskah buku

2.      Penulis aktif posting di website YPTD terbitkan bukugratis.id setelah terkumpul 40 artikel maka buku akan diterbitkan

3.      YPTD akan menerbitkan buku  Antologi berupa kumpulan tulisan yang di posting dalam 1 bulan

Jika terpenuhi persyaratan tersebut YPTD akan menerbitkan buku secara gratis.

Lebih lanjut Pak Thamrin  menginspiratif dengan kata-kata  “Buku adalah mahkotah seorang penulis. Layakknya seorang Raja, beliau diakui sebagai seorang penguasa karena menggunakan mahkota dikepalanya. Makhkotah itu adalah bentuk pengakuan resmi dari rakyatnya” . Analog dengan seorang penulis “tanpa memiliki sebuah buku belum bisa dikatakan sebaagi seorang  penulis sejati”. Menakjubkan kata-kata narasumber mengingatkan kita akan berharganya arti sebuah buku, jika ditilik dari  analoginya bahwa buku merupakan makhotah bagi manusia yang bergelut di bidang literasi penulis terutama guru, boleh dibilang bahwa buku adalah tanda hadirnya diri seorang  manusia. Tanpa buku ibarat putus lah silsilah kemanusiaan.  Agar tetap lestari keberadaan nya ditengah masyarakat  merujuklah untuk segera membuat naskah buku. Syukur-sukur buku itu mendapat hati  bagi pembacanya.

Berikutnya sesi tanya jawab  penanya pertama dari Ibu Soleh Setiyowati dari Banyumas, menanyakan batas minimal jumlah halaman yang layak di terbitkan oleh YPTD , dan apakah naskah itu yang masuk dibantu oleh editor, untuk di edit?

Lanjut di jawab oleh Pak Thamrin bahwa batas minimal dari UNICEF ketebalan buku 80 halaman atau 40 lembar. YPTD menyarankan supaya guru mempunyai batas minimal jumlah halaman buku sebanya 150 halaman. Biasanya buku dengan ketebalan minimal 150 halaman, kelihatan gagah dan berwibawa, ketika di pajang di Perpustakaan, terkait editor YPTD tidak menyediakan tenaga editor naskah, namun dengan ketentuan ukuran buku A 5, Huruf  Time New Romant font 12 spasi 1,5 dengan Margin ,5, 1, 1, 1, Inshaallah tampilan buku sudah baik. Usahakan setiap satu paragraf tidak lebih dari 5 kalimat. Pesan Pak Thamrin membaca dan terus membaca tulisan sendiri adalah editor yang terbaik. Roh tulisan itu ada sama penulis. Pesan selanjutnya jangan sampai kehilangan Roh. Tulis sendiri edit sendiri sehingga sampai timbul rasa puas. Pola ini yang selalu dipakai pemateri, ketika menerbitkan buku tanpa editor  

Pertanyaan selanjutnya Ibu syafrina dari Padang, bertanya bagaimana kiatnya dalam menulis tidak terjadi kata yang berulang-ulang. Misalnya “Aku mempunyai seekor kucing”, “aku sangat sayang dengan kucingku”, “kucingku cantik dan manis”. “Semua orang suka kucingku”.

Dijawab oleh narasumber, pengulangan itu memang sering terjadi, namun dengan banyak latihan akan menemukan sendiri kata pengganti sebagai subjek, pemateri langsung memberi contoh,  “aku mempunyai seekor kucing”, “Betapa sayangnya keluargaku pada binatang peliharaan rumah”. “Makhluk Tuhan yang berbulu tebal hitam pekat menjadi hiburan bagi keluarga dan tetangga”, seperti itu kira-kira penjelasan dari Pak Thamrin. Menambah pengetahuan kita tentang kata-kata yang suka terjadi pengulangan, dengan mengambil sebutan lain, yang subjeknya tetap si Kucing

Pertanyaan dari Pak Syamsul adalah bagaimana menentukan topik tulisan menulis buku

Pak Thamrin menjelaskan, jangan jadikan penghambat ketika menulis. Apalagi tentang menentukan judul. Bedakan terlebih dahulu kita menulis reportase (laporan), Opini atau fiksi(cerpen, puisi pantu). Pengalaman Pak Thamrin judul munculnya belakangan, malah judul bisa berubah-rubah setelah tulisan itu di tuntaskan. Yang penting niatkan duduk tulisannya jangan terhambat karena judul, stagnan di satu paragraf, menulis saja terus sampai selesai. Itulah tips dan pesan dari narasumber, sepertinya lancar saja ya, seperti air mengalir.

Pertanyaan  Ibu Leni dari Jakarta, apakah boleh menulis naskah di blog sendiri lalu di pindahkan ke YPTD, pertanyan selanjutnya apakah boleh tulisan kita yang di muat dalam Antologi, kita tulis di YPTD.

Jawaban narasumber adalah tentu karya tulis kita bisa di share kemedia mana saja termasuk ke YTPTD website terbitkan buku gratis, hak cipta di lindung Undang-Undang  selama itu karya orisinil milik  sendiri. Etika menulis harus diperhatikan mengharamkan plagiat, perbuatan tidak jujur, dan terpuji. Narasumber sering menulis opini politik, menyunting satu paragraf dari media main stream , boleh kita lakukan asal mencantumkan sumber berita tersebut. Selanjutnya berdasarkan nalar kita bahas peristiwa yang terjadi sesuai dengan ilmu pengetahuan dan pengalaman.

Setiap hari Pak Thamrin selalu menulis di beberapa web seperti di kompasiana, YPTD, facebook dengan topik yang sama, justu hal ini bisa memberi manfaat , karena semakin banyak pembacanya.

Pertanyaan ibu Eka Wijayati dari Lampung, rupanya info YPTD ini membuat penanya terpesona, semangat menerbit buku semakin menggebu semoga beliau bisa mengikuti program YPTD.  “Apa jenis naskah yang akan dikirim fiksi atau non fiksi, lalu dalam 40 artikel yang dikirim itu dalam satu tema atau boleh tema yang berbeda”.

Dijawab narasumber bahwa YPTD menerima semua jenis naska baik fiksi dan non fiksi, terpenting menulis saja dalam bentuk opini, reportase, kegiatan belajar mengajar pun boleh ditulis. Bisa juga buku berisi gabungan ke 3 jenis tulisan. Pengalaman narasumber 37 buku yang sudah terbit lebih banyak ber genre bunga rampai, isi kumpulan tulisan harian sepanjang bulan. Beberapa buku khusus seperti buku Prabaowo Presidenku. Kasidah, Kumpulan pantun,  Polisi Juga Manusia . menulis saja setiap hari kemudian kumpulkan kemudian jadilah sebuah buku. Lain halnya jika membuat novel, karya itu fokus sampai ending, untuk judul akan bertemu dengan sendirinya.

Akhir dari sesi ini Pak Thamrin mengajak peserta untuk segera buat akun di YPTD biar bisa menulis setiap hari 40 artikel yang tidak ada batas waktunya, tidak ada admin yang menyeleksi, dan buku terbit ber ISBN. Jika para peserta memiliki naskah buku kirim via email thamrindahlan@gmail.cum , kewajiban penulis posting 10 artikel di website YPTD terbitkanbukugartis.id . seperti yang disebut diatas program 40 artikel sudah cukup jadi sebuah buku, sesuai juga dengan standar UNESCO format menulis di website YPTD ukuran A5, kecuali ada permintaan khusus  tetap dilayani. Pemberitahuan dari narasumber bahwa  YTPD pun pernah menerbitkanTesis seorang Guru yang di edit sedemikian rupa sehingga enak dibaca dan pesan sampai ke pembaca laris terjual karena ada ISBN.

Sampailah diakhir pertemuan pelatihan Belajar Menulis  gelombang 18 pada pertemuan ke-8. Terimakasih saya ucapkan kepada narasumber dan moderator yang telah memberikan pencerahan ilmu yang sanga berharga ini, mudahan menjadi ladang amal buat semua yang terlibat.

 Judul               : Buku Mahkotah Penulis, Buku Muara Tulisan

Resume           : 8

Gelombang     : 18

Tanggal           : 21 April 2021

Narasumber    : Thamrin Dahlan, SKM,M.Si.

Comments

Popular posts from this blog

Menulis Resume Untuk Jadi Buku

Buku Mahkotah Penulis, Buku Muara Tulisan