Mental Dan Naluri Penulis
Dengan mengucapkan salam dari moderator, Pelatihan
Belajar Menulis gelomban 18 sudah memasuki pertemuam ke-9. Narasumber yang
sudah kita kenal dengan kiprahnya, karya
literasi membuat kita terpana, masih muda, prestasi gemilang, melebihi dari usianya.
Tidak berlebihan saya mengatakan demikian, melihat tanggal kelahirannya 1990,
saat itu saya masih berjuang untu menyelesaikan perkuliahan saya. Sekarang dia
jadi mentor saya. Jangan dilihat umurnya lihat pengalaman dan pencapaiannya.
Jangan malu berguru dengan yang muda. Ilmu bisa di dapat dari mana saja, dari
lingkungan sekitar, dari makluk lainpun
kita bisa berguru.
Kali ini narasumber bernama Ditta Widya Utami, S.Pd,
lahir 23 Mei 1990, status menikah dan punya anak satu. Masa pendidikannya
dilalui SDN Cipeundeuy
Subang(1996-2002). SMPN 1 Cipeundeuy Subang (2002-2005), SMAN 1
Purwakarta (2005-2008), di lanjut Pendidikan Kimia UPI (2008-2012), PPG Daljab
A3 UNM (2020)
Banyak karya tunggal dan Buku Karya bersama yang telah
dibuatnya, kagum akan sosok narasumber.
Karya Tunggal
anatara lain
1.
Precius
(2017-2019)
2.
Mengapa tak kau
tanyakan saja (2019)
3.
Djogja Backpacker
(2019)
4.
Buku “Lelaki di
ladang Tebu” ( 2020)
5.
Buku “membongkar
Rahasia Menulis”(2020)
6.
Buku” Sepenggal
Kisah Corona” (2021): Memoar
Karya bersama antara lain
1.
Jejak Langkah
Guru Subang (2019)
2.
Guru di Ladang Ilmu (2019)
3.
Sepanjang Kisah
di Ruang Cipta Pentigraf (2020)
4.
Dari Mata air
Hingga Muara (2020)
Turut juga sugudang prestasi menghiasi blognya
1.
Penghargaan dari
Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (2020)
2.
Perhargaan Bupati Subang (2020)
3.
Penghargaan
Bupati Subang92021)
Komunitas yang diikuti narasumber
1.
MGMP IPA Kab Subang
2.
Persatuan Guru
Republik Indonesia (PGRI)
3.
Komunitas
Pengajar Penulis Jawa Barat (KPPJB)
Pengalaman
1.
Panitia Pemilihan
Kecamatan (PPK) Cipeundeuy Subang pada Pemilu (2019)
2.
Narasumber
Pelatihan Belajar Menulis melalui WA Grup (PGRI)
3.
Narasumber
Belajar Bicara (WebinarAPKS PGRI)
Silahkan terhubung dengan Mbak Ditta panggilan
akrabnya Email : dittawidyautami@gmail.com Blog :
Blogspot dan Kompasiana, Youtube : ditta widya utami, instagram/twitter
@dittawidyautami, linkedln : Ditta Widya Utami
Pada hari ini narasumber akan memberi materi pelatihan
Belajar Menulis dengan judul “Mental Dan Naluri Penulis”, moderator Ibu Aam
sudah mempersilahkan.
Dengan sapaan salam
Mbak Ditta mengawali pertemuan ke 9 ini, barang kali diantara peserta
ada yang masih di vaksin, ada yang di sibukkan dengan seleksi Guru Penggerak,
Challenge terkait tulis menulis. Demikian kata pembuka dari narasumber.
Hari ini temanya adalah Mental dan Naluri Penulis,
kita tahu antara teknik menulis dengan mental seorang menulis dua hal yang tak
bisa dipisahkan. Teknik menulis menurut pemateri adalah cakupan kemampuan seseorang dalam
menulis, mulai dari memilih kosa kata,
kemampuan memebuat outline, pemahaman mengenai gagasan utama, pengetahuan
berbagai jenis tulisan, dan lain sebagainya.
Sedangkan mental penulis merujuk pada kondisi
psikologis atau bathin si penulis itu sendiri. Mental apa saja yang harus di
miliki si penulis. Lihat maping yang
sudah dibuat narasumber. Mental seorang penulis, siap konsisten, siap,
dikritik, siap belajar,siap ditolak, siap menjadi unik. Salah satunya siap
belajar, seperti yang tengah kita jalani sekarang. Tapi lebih menitik beratkan
pada keseimbangan teknik dan mental penulis.
Berdasarkan analisa narasumber dilihat dari
keseimbangan teknik dan mental penulis ada 4 tipe Penulis
1.
Dying Writer
2.
Dead man
3.
Sick people
4.
Alive
Mari kita simak satu persatu ke-4 tipe tersebut
Tipe Dying
Writer atau penulis yang sekarat, termasuk lemah secara teknik dan lemah
secara mental, wah ini sudah negatif ketemu negatih akan menghasilkan nilai
negatif. Lebih lanjut pemateri mengibaratkan hidup segan mati tak mau, misalnya
ikut pelatihan menulis setengah hati dan tidak berkarya membuat tulisan seperti
resume yang harus dibuat per pertemuan. Tipe ini bukan tak mampu menyelesaikan
tulisan, tetapi, harus punya daya ungkit agar mampu menyelesaikan tugasnya
kembali, mau hidup sehat kembali untuk menulis. Ibaratnya punya cita- cita
jadi penulis tapi tak mau menulis
keinginan hanya dalam bentuk khayalan. Tipe ini
tidak akan menghasilkan apa-apa
Tipe Dead Man
, sesuai dengan namanya kategori ini mati tidak diketahui keberadaannya
terkubur dalam folder laptop. Terbungkus dalam lembaran diary atau catatan yang
ada di Hp. Belum terpublikasikan teknik menulis sudah di miliki, masih ada
keraguan takut dikritik, belum berani membuat buku. Seperti aura negatif
bertemu denga aura positif akan menghasilkan aura negatif. Aura positif
terkalahkan lebih mendominasi aura negatif.
Tipe Sick People,
orang-orang dalam kelompok ini masih lemah dalam teknik menulis. Tapi sudah
memadai mental untuk mempublikasikan tulisannya. Percaya dirinya tinggi, boleh
jugalah tipe ini, masalah teknik menulis akan makin bagus seiring dengan waktu
untuk terus berlatih. Kelompok ini sudah siap untuk dikritik dan dikomentari.
Sejatinya sadar masih terdapat kekurangan dalam menulis. Solusinya dari tipe
ini adalah terus menulis, tiingkat jam terbang, insyaalh akan sembuh dengan
sendirinya. Makin banyak menulis makin banyak membaca , mereview akhirnya bisa
meminimalkan kesalahan dalam menulis.
Tipe Alive,
yaitu orang-orang yang terus berkarya, terus menulis, ibarat jantung
selalu memompa darah keseluruh tubuh. Kelompok ini sudah bisa dikategorikan
ahli menulis kuat tehnik kuat mental. Ciri orang dalam tipe ini yaitu merasa
ada yang hilang jika sehari tidak menulis, akan merasa haus dan lapar jika
tidak menulis. Ciri yang menonjol yaitu seperti juara lomba menulis, , bukunya
tembus di Jurnal Nasional dan di media massa. Bahagia sekali kalau penulis
pemula berad pada tipe ini. Dan suatu kebanggan bagi guru di posisi ini.
Insyaallah saya terutama akan mencoba yang penting blok mental sudah tidak ada,
masalah teknik menulis selalu terus kita pelajari
Sudah banyak orang yang berada pada kelmpok ini, Om
Jay Bu kanjeng, Mr Bams, Pak Thamrin dan moderator yang memandu acara ini Ibu
Aam. Dilihat dari waktu bergabung di Pelatihan Belajar Menulis belum terlalu
lama , namun sudah menembus prestasi yang gemilang. Saya sangat jauh dalam usia dari mereka, namun
tekad untuk berkarya, selalu muncul apalagi semakin banyak narasumber memberi
obor api penyemangat, minimal bukan untuk sekarang. Nanti jika waktu lebih
fleksibel, teknik tulisannya terus diasah kelak akan berguna pada masanya. Sekarng biarlah belajar dengan anak-anak muda
dulu. Belajar dengan mereka anak-anak generasi muda dengan ilmu masa kini yang
mereka punya.
Pertanyaan apakah kita peserta penulis bisa menjadi
Alive? Jawabnya “pasti bisa” kata
narasumber, yang penting terus aktif
menulis, pupuk mental penulis. 4 kategori ini tidak mutlak, kadang kala seseorang
berada disatu kategori, esoknya bisa berada di lain kategori. Tidak
mudah memang mempertahankan kategori ideal untuk terus tumbuh dan berkembang
sebagai penulis, lalu bagaimana kiatnya?. “Konsistensi dan kekuatan mental
salah satu kunci suksesnya”. Demikian kata Mbak Ditta.
Dalam sebuah kuissioner yang di sebarkan
narasumber, salah satu pertanyaan adalah
“Apakah yang Anda takutkan ketika menulis /dalam dalam mempublish tulisan.
Ternyata dari 30 jawaban dikategorikan 2
macam ketakutan, yaitu :
1.
Takut terkait
teknik penulisan, takut tidak sesuai kaidah penulisan, tidak sesuai aturan
penerbit , alur dan pesan tulisan yang masih belum tampak , dan ketakutan lain
yang sejenis
2.
Ketakutan yang
berhubungan dengan penilain dari orang lain , misal takut di cemoohkan, diejek,
tidak dibaca dan lain sebagainya.
Sedangkan 3 orang lain menyatakan tidak memiliki
ketakutan, inilah orang yang perlu kita contoh. Saya bisa memastikan saya ada
di kelompok yang 3 orang itu, kenapa ? karena kita tidak melihat mimik wajahnya
di saat membaca tulisan kita, biarkan
saja mereka membaca dan berkomentar, baik komentar positif atau negatif. Apa
pula pengaruhnya bagi kita jika mereka yang membaca dengan komentar negatif.
Begitu juga dengan mereka yang berkomentar positif pun di biarkan mengalir,
yang terpenting kita tetap menulis dan berkarya. Dengan sendirinya teknik
menulis akan membaik, dan mental penulis akan terbentuk. Kita terus berlatih
mepublishkan tulisan kita untuk dibaca orang lain.
Bahasan selanjutnya tentang Naluri Penulis, narasumber
akan beranjak dari pengertian Naluri menurut KBBI online.
Naluri: 1.
Dorongan hati nafsu yang dibaw sejak lahir, pembawa alami yang tidak
disadari mendorong berbuat sesuatu;
insting.
2
psikilogis perbuatan atau reaksi yang sangat majemuk dan tidak dipelajari yang
dipakai untuk memepertahankan hidup, terdapat pada semua jenias ,makhluk hidup.
Penulis sejati berangkat dari keresahannya, membuatnya
berbuat melalui “tulisan”. Ia mengubah dunia melalui tulisan, goresan tintanya.
Orang yang mempunyai naluri penulis akan mengoptimalkan seluruh indranya
sehingga bisa menghasilkan karya berupa tulisan. Ada banjir yang melanda,
dilihat didepan mata, banyak yang mengungsi tergerak menulis jadilah sebuah
tulisan.
Ada lagu syahdu
yang bisa jadi renungan, di tuangkan dalam bentuk tulisan jadilah sebuah
tulisan. Bagaimana mengasah naluri itu
untuk selalu tumbuh mekar hingga selalu tergerak untuk menulis, ya di sarankan
mengenal diri sendiri dan lingkungan. Peduli dengan kondisi sekitar, tentang
kesehatan, kemanusiaan, tentang alam. Disitu kita lebih banyak merenung akan
kebesaran dan keindahan alam.
Masuk pada sesi terakhir tanya jawab, pertanyaan dari Syafrina , yang menggangu
mentalnya ketika tulisan itu tidak berkenan dengan kelompok lain. Kuatir akan
berurusan dengan hukum, bagaimana kiatnya agar aman dari masalah hukum. Dijawab
oleh narasumber , hindari SARA, jika ingin mengkritik dengan aman adalah
melalui kolom media massa, misalnya surat pembaca.
Bisa juga
mengkrituk melalui Majas, pantun, atau puisi. Melalui kisah pun kita bisa
mengkritik, untuk lebih aman lagi jangan langsung disebut nama atau badan yang
di kritik.
Selanjut bertanya ibu Anita dari Bekasi, bagaimana mengatasi untuk tidak mudah down
dalam menulis, sebelumnya percaya diri untuk menulis mau mempublikasikan.
Jawaban Mbak Dita , buat target yang lebih besar, jika mula hanya ingin buat
resume, tingkatkan akan menjadi sebuah buku dari resume, tingkatkan lagi, menerbitkan
buat buku Solo, kita akan bersemangat menuntaskan naskah buku.
Pertanyaan dari Ibu Weni Ellisa , bagaimana cara mengenal
kelemahan dan kekuatan kita dalam menulis?, tidak ada yang mengenali diri kita ,sebaik
kita sendiri. Orang bisa menilai diri kita , tapi seperti apa kita sesungguhnya
hanya kita yang tahu. Pertanyaan Gaya menulis banyak sedikitnya di pengaruhi
dari minat kita dalam membaca. Buku apa
yang kita baca akn membawa gaya menulis
pada buku yang kita baca.
Dari Ibu Eka Wijati, yang sudah mempunyai buku solo
dan Antologi tapi masih mau belajar pada pelatihan ini, menanyakan sesungguhnya
Ibu ini cendrung menulis non fiksi,
karena tupoksinya sebagai guru, hatinya
bercabang tidak ingi meninggal fiksi, langkah apa yang dilakukan agar mantap
juga pada pilihan menulis fiksi dan tipe apa ibu ini dalam berliterasi. Dijawab
narasumber kemantapan diri berhubungan dengan kemantapan hati. Hati kecil tidak
pernah dusta, ikuti saja langkah hati, apa yang ibu senangi dan kuasai lakukan.
Seberat apa pun rintangan yang akan mengahadang pasti tetap akan kita lalui dan
bukan menyerah, demikin Mbak Dita.
Demikian akhir dari pertemuan ke-8 Gelombang 18, inti sari dari pertemuan ini
adalah untuk menjadi penulis hebat, pilihan kata-kata yang tepat, berilah nyawa
pada tulisan mu Itu semuanya bermuara
kepada rajinlah berlatih menulis,
teruslah menulis, akan sendirinya akan
terbit naskah buku yang di idam-idamkan.
Mengutip dari
seorang Kompasianer “ Menulislah dan teruslah menulis, karena tulisanmu
sesungguhnya adalah bentuk asahan dari nalurimu”
Terimakasih kepada moderator Ibu Aam Nurhasanah dan
narasumber Ibu Ditta Widya Utami,
Judul : Mental Dan Naruli Penulis
Resume :
9
Gelombang :
18
Tanggal :
23 April 2021
Narasumber : Ditta
Widya Utami, S.Pd
Comments
Post a Comment