Penerbit Mayor


Hari ini Rabu tanggal 28 April 2021, tepat pukul 13.15 kembali dalam pelatihan Belajar Menulis PGRI asuhan Om Jay, dengan moderator Bapak Bambang Purwanto yang dikenal dengan Mr Bam, dan penyaji materi oleh Bapak Edi S Mulyanta, S.Si, M.T

Dengan CV yang sangat panjang dan pengalaman berbagai bidang.

Nama lengkap Edi S Mulyanta, S Si, MT,  lahir di kota Jogjakarta, 24 mei 1969, status menikah dengan Ratna G, memiliki  3 orang  anak, lahir dari pasangan ini,  Nindita Saheka Ramadhani, Raditya Rizky Duanda (alm) dan Naditya Tertia Alfarizky. Hobby narasumber adalah Membaca, Menulis, Olah Raga dan Musik. Pendidikan terakhir narasumber dengan panggilan Pak Edi,  S1 Geografi Universitas Gajah Mada Jogjakarta lulus tahu 1994 dan S2 Megister Teknologi Informasi Fak. Elektro UGM Jogjakarta lulus tahun 2006.

  Sejumlah Riwayat Pekerjaan antara lain :

1.      .Staff LitBang Komputer PT. Wahana Semarang 1994-2000

2.      Staff EDP PT. Sanggar Film Semarang 1995-2001

3.      Ka. Lab Komputer STMIK Proactive Yogjakarta  tahun 2001- 2002

4.      Dosen Tamu Akademi Teknologi Kulit Yogjakarta 2002

5.      Staff Net Business PT. Bayu Indra GrafikaYogyakarta 2002

6.      Staff Litbang Penerbit ANDI Yogjakakarta3003-2004

7.      Operasional Penerbit ANDI Yogjakarta 2004-2019

8.      Publishing Consultant & E-Book Development Penerbit Andi 2020 - sekarang

9.      Founder Pasar Buku Digital ebukume.my.id  dan bukudigital.my.id.2020 –sampai sekarang

Sederetan Hasil Karya Beliau dapa di lihat http://scholar.google.co.id/citations?user=tYUNqsAAAAj&hl=en&oi=ao

1.      How to make money in Big Data, 2021

2.      Lebih Mahir Word 2019, Untuk Penulis Ilmiah, 2019

3.      Teknik Modern Fotografi Digita,  2007

4.      Pengolahan Digital Image,  2007

5.      Menyusun Karya Tulis Ilmiah Menggunakan MS Office Word,  2006

6.      Special Workshop: Teknik Airbrush Menggunakan Photoshop, 2005

7.      Menjadi Desainer Layout Andal dengan Adobe In Design, 2005

8.      Pengenalan Protokol Jaringan Wireless Komputer, 2005

9.      Kupas Tuntas Ponsel Anda,  2003 dll

Selanjutnya mempersilahkan narasumber memberikan ilmu yang bermanfaat untuk guru-guru hebat se nusantara, semangat tetap membara dalam bulan suci Ramadhan.

Profil yang sudah ditampilkan dengan pengalaman didunia penerbitan dan penulisan buku dapat memberi bekal dan berbagi ilmu buat para peserta pelatihan Belajar Menulis.

Pak Edi sapaan beliau sebagai narasumber, sebelum bergabung dipenerbitan Andi, beliau adalah penulis lepas yang memang hidup dari menulis buku. Sudah lebih 20 tahun Pak Andi berkecimpung dan menangani penerbitan di Penerbit Andi, semoga dengan pengalaman ini  bisa menginspirasi kita sebagai penulis pemula. Dua puluh tahun waktu yang tidak sedikit untuk menjalankan pekerjaan, pastinya segudang pengalaman akan dibagi kepada peserta pelatihan. Yang pada akhirnya bermuara ke penerbit terminal terakhir lahirnya sebuah  buku

Hampir satu tahun dengan masa pandemi yang luar biasa ini mengubah semua sisi kehidupan, dan juga mengubah perputaran bisnis di semua bidang termasuk penerbit buku seperti industri yang di geluti narasumber, demikian informasi dari narasumber, kita peserta pelatihan menulis dengan banyak waktu tersisa mencoba mencari pengalaman juga dalam dunia tulis menulis. Antara penerbit akan menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan bisnis beliau ini.

Lebih lanjut narasumber mengisahkan, pada bulan  Maret 2021 kegiatan penerbitnya mulai menggeliat, akan tetapi  tantangan yang timbul akibat pandemi ini, belum memadai untuk di jalankan, meskipun tidak mudah penerbit berusaha terus untuk memulai lagi.  Dunia penerbit saat ini baik itu penerbit mayor maupun penerbit minor menghadapi masalah yang sama. Begitu juga dengan  kehidupan usaha-usaha lain, semua lini kehidupan usaha jalan ditempat, dan kita tidak tahu kapan akan berakhirnya masa sulit ini.

Kondisi penerbitan saat ini baik penerbit Mayor, maupun penerbit Minor adalah dunia binis semata, dan idealisme didalamnya. Setiap penerbit mempunyai visi dan misi yang berbeda, yang dicari dalam bisnis penerbit ini adalah profit atau keuntungan.  Sasaran utama dari bisnis penerbitan buku adalah pasar, toko buku, dan pasar diluar toko buka. Toko buku inilah yang menjadi soko guru dari bisnis ini  sehingga ketergantungan ini menjadi ekosistem yang khas dalam dunia penerbitan.

Narasumber menjelaskan bahwa, dalam Undang-Undang Nomor 3 tahun 2017, sudah dijelasakan dengan gamblang  tentang sistem perbukuan di Indonesia. Sistem perbukuan adalah tata kelola perbukuan yang dapat dipertanggung jawabkan dan terpadu, yang mencakup pemerolehan naskah, penerbit, percetakan, pengembangan buku elektronik, pendistribusian, penggunaan, penyediaan, dan pengawasan buku. Inilah yang menjadi bagian tanggung jawab penerbit, bagaimana tata kelola buku tetap berjalan, sementara pendistribusian buku salurannya saat ini  tersumbat. Akan tetapi permasalahan ini semaksimal harus diselesaikan apapun kondisinya, pedistribusian yang sudah di proses harus sampai ke pembaca, jangan sampai literasi membaca di Indonesia mati suri, selama dengan pandemi ini.

Dengan literasi yang baik dapat meningkatkan  kemampuan untuk memaknai informasi secara kritis,  sehingga setiap orang dapat mengakses ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai upaya dalam meningkatkan kualitas hidupnya. Demikain arti makna Buku menurut        UU No 3 -2017. Sebenarnya ini adalah tanggung jawab semua insan pendidik, tidak berujung pada penerbit semata. Penerbit dan yang terkandung di dalamnya sebagai fasilitator, untuk kemajuan bersama.

Tugas penerbit adalah mendapatkan naskah yang akan diproses menjadi buku, penerbit dengan orientasi usaha pasti akan  menghasilkan keuntungan, sehingga bisnis penerbit tersebut dapat berkembang dan meningkatkan literasi bagi masyarakat secara umum. Kita perlu juga mengetahui naskah buku dan buku yang telah dijelaskan dengan gamblang dalam UU perbukuan. Kita sebagai penulis pemula perlu mengetahui juga alur dari terbitnya sebuah buku, dengan segala permasalahannya, sehingga terbentuklah harmonisasi antara penulis dan penerbit.

Tugas penulis adalah menulis dan  menghasilkan naskah buku, yang memenuhi kriteria bagi penerbit akan di cetak dan di terbitkan. Penerbit akan mengolah naskah buku tersebut menjadi komoditas, menjadi berupa  buku cetakan maupun buku elektronik. Komoditas buku itu akan di sesuaikan dengan perkembangan zama.

 Definisi buku  menurut UU perbukuan adalah karya tulis dan atau karya gambar yang akan diterbitkan berupa cetakan berjilid atau berupa publikasi elektronik yang ditebitkan secara tidak berkala. Kedepan baik penerbit Mayor maupun Minor akan saling melengkapi dalam memenuhi amanat Undang-Undang ini.  Pastinya dengan tujuan saling melengkapi, kedua jenis penerbit ini.

Dengan Umdang-Undang tersebut, buku merupakan luaran atau outcome yang diakui oleh Undang-Undang sebagai syarat dalam memenuhi kewajiban baik itu guru ,dosen dan tenaga tenaga dipemerintah. Beberapa Undang-Undang yang memperkuat posisi buku ada di UU 12/2021. Perguruan tinggi pasal 46 ayat 2. Untuk itu hasil penelitian wajib disebar luaskan,  dipublikasi dan di bukukan  dalam bentuk buku ber ISSB. No ISBN  dikeluarkan oleh Perpustakaan Nasioanal, oleh sebab itu  profesi pendidik berlomba-lomba  berusaha dan berupaya menyalurkan hasil pemikiran penulisan dalam bentuk buku ISBN.

Penebit Indonesia telah diwadahi, oleh  pemerintah dalam organisasi IKAPI, sehingga  guru-guru bisa menerbitkan buku, dengan  menggunakan  saluran tersebut. Setiap penerbit diperbolehkan mengajukan nomor ISBN ke Perpustakaan Nasional. Di dalam perkembangannya, Perpustakaan Nasional memeberi penanda tertentu dalam ISBN untuk menunjukkan skala produksi penerbitnya.

Skala produksi ini hanya menunjukkan kemampuan output buku yang dihasilkan serta kemampuan distribusi kemasyarakat luas. Semakin besar output dan distribusinya, ISBN yang akan dikeluarkan oleh  Perpusnas akan semakin banyak. Akhirnya diberi kode produksi baru di USBN dalam bentuk Publications Element Number.

Inilah struktur ISBN sebagai penanada Perpusnas dalam mendistribusikan nomor buku

secara individual

                                    


 

Perbedaan penerbit Mayor dan Minor terletak pada skala produksi saja, visi dan misi kedua penerbit adalah sama yaitu mencari keuntungan dalam bisnis penerbit dan tetap memegang idealisme didalamnya.  Calon penulis akan lebih mudah menghasilkan karya buku dengan banyaknya penerbit, dengan begitu calon penulis bebas menentukan penerbit yang sesuai dengan targetnya masing masing.

Aturan Pemerintah  bergerak mengikuti di namika masyarakat,  karena banyaknya naskah buku terbitan yang diajukan sebagai syarat jabatan Fungsional Pendidik , akhirnya pemerintah meberikan syarat tertentu untuk mempermudah klasifikasi pemberi Nilai Indeks diangka kredit. Sehingga munculah penerbit Mayor dengan skala Nasional dan penerbit Minor dengan skala Regional. Bahkan pada  Penididikan Tinggi, jelas mensyaratkan untuk mendapatkan nilai Angka Kredit Nasional, minimal 3 propinsi kantor pemasarannya.

 Jelas sekali  munculnya istilah penerbit Mayor dan Minor terletak pada skala penjualan.  Saat ini narasumber sedang mengembangkan penerbitan digital sebagai antisipasi arah perkembangan zaman yang semakin nyata arah kedepannya, yaitu digitalisasi.

Para peserta pelatihan Belajar Menulis silahkan lihat contoh buku digital dan proses pemasaran di http://bukudigital.my.id Atau dapat dilihat di http://ebukune.my.id ini adalah proyek percontohan pengembangan buku digital yang tengah di garap dalam proses.

Peserta pelatihan menulis  cobalah untuk bertransaksi pada buku digital, supaya kita tidak ketinggalan zaman, karena buku digital ini akan menyatukan mindset penerbit mayor maupun minor, sehingga tidak ada lagi sekat diantara kedua jenis penerbit itu. Yang ada adalah penerbit dengan ciri khusus dalam visi dan misi masing masing penerbit, akan saling mengisi untuk memperkuat literasi bangsa ini.

Di era pandemi ini setiap penerbit mencoba memperbaiki proses pendistribusian materi dan literasi. Banyak toko buku yang tutup, Sekolah dan Kampus pun demikian,  penerbit  belum dapat mengandalkan  penyaluranan  bisnis buku saat ini. Penurunan omzet yang rata rata 80-90% membuat penerbit melakukan reposisi bisnisnya kembali. Hal ini berdampak secara langsung ke produksi buku hingga  penenulis buku yang telah memasukkan naskah ke penerbit menanti ditoko buku.  Penerbit tentunya kuatir dengan keadan ini mengingat suplay naskah masih berjalan sedangkan produksi tidak selancar terbitnya naskah buku, sehingga komoditas buku yang benilai ekonomi sangat terhambat.

Selanjutnya narasumber menginformasikan, penerbit berusaha untuk bertahan, walau tidak mudah, sehingga mereka  mencari saluran lain  dalam berpromosi baru dengan tujuan tetap mengorbarkan semangat berliterasi. Saluran digital menjadi alternatif  untuk tetap berkembang medistribusikan ilmu pengetahuan. Penerbit mencoba saluran baru berupa pengembangan Chanel TV Andi di Youtube dan juga mengembangkankan production House Andi Academy. Tujuannya tak lain dan tak bukan menggelorakan semangat untuk mencerdaskan kehidupan bangsa  melalui penerbitan buku.

Untuk menawarkan naskah buku kesemua penerbit, masih tetap terbuka, hanya saja yang menyulitkan sekarang adalah proses produksi dan pemasarannya, semoga kedepan, toko buku,  kegiatan belajar kembali normal,  sehingga pasar buku dapat menggeliat kembali. Saran narasumber adalah tetap mengirim usulan naskah ke penerbit-penerbit baik skala mayor maupun minor, karena peluang itu  selalau ada. Sebagai guru kita dituntut menghasilkan outcomes atau luaran yang berdampak, yaitu hasil tulisan buku ISBN, supaya ilmu kita para guru tidak hilang di telan zaman.

Narasumber selanjutnya mengatakan  bahwa keputusan strategi sangat dibutuhkan dalam bisnis penerbitan buku, dengan situasi sekarang banyak hal-hal yang dipangkas oleh penerbit , misalnya tidak aktifnya mesin cetak  hampir 50%,  untuk mengurangi beban biaya, sudah pasti tenaga kerja dalam menggerakkan  mesin pun  istirahat sebanyak 50%,  dengan mengurangi jam kerja. Untuk penerbitan buku-buku pelajaran tetap kita pertahankan produksinya, karena penerbit yakin buku tidak akan lekang oleh keadaan apapun.  Kosentrasi ke buku-buku pendidikan yang mempunyai pangsa pasar yang stabil setiap tahunnya.

Imbauan penerbit kepada peserta  pelatihan Belajar Menulis yaitu tulislah rencana penulisan dengan target market yang dituju, kalau bisa kita kasih solusi penawaran rancangan pemasaran, untuk membantu penerbit. Pemasaran era new normal sangat berbeda dengan era normal.  Kedepan buku-buku akan disalurkan ke era Ebook, untuk media printing offline mungkin akan semakin berkurang.   Kedepan nantinya, media-media selain buku akan banyak menghiasi dunia pendidikan. Kita calon penulis bersiap-siap untuk hal ini, persiapakanlah dengan baik , karena akan membutuhkan keahlian yang berbeda dengan sebelumnnya.

Dengan berbagi pengalaman dengan komunitas yang sama, senasib dan sepenanggungan adalah wahana yang baik dalam mengelola tulisan. Bisa dikatakan pejuang literasi yang puritan seperti Om Jay dapat memberi angin segar untuk tumbuhnya penulis-penulis baru dan tidak cengeng dengan penolakan penerbit. Akan tetapi terus berkarya hingga menghasilkan tulisan yang khas. Punya karakter sendiri dan tentunya akan ditunggu kehadirannya oleh pembaca dan penerbit.

Selanjutnya sesi tanya jawab, yang diawali pertanyaan oleh Ibu Eka Wiyati asal Lampung yang ditanyakan adalah

1.       Kriteria apa yang menjadi syarat wajib naskah lolos masuk dan diterbitkan oleh penerbit Mayor.

2.      Apakah untuk menerbitkan buku pada penerbit mayor itu butuh perantara atau penulis bisa sendiri melakukannya

3.      Perbedaan penerbit mayor dan Minor terletak pada skala penjualan, lalu aapakah kualitasnya sebenarnya bisa saja buku yang diterbitkan penerbit Minor itu lebih baik, atau seperti apa standarnya.

Jawaban dari narasumber adalah :

1.      Buatlah proposal kepenerbit yang isinya garis besar tulisan yang isinya dapat ditawarkan kepada penerbit. Penerbit akan melihat Tema , Judul utama, Outline tulisan, pesaing buku dengan tema yang sama, positioning buku termasuk harga, usia, pembaca, gender, dan pendidikan

2.      Untuk menerbitkan buku di penerbit Mayor tidak ada perantara , bisa langsung ke penerbit yang bersangkutan. Akan tetapi penerbit Andi  biasanya mempunyai group-group  penulis yang selalu memberi perancangan tulisan yang akan di usulkan. Terkadang group penulis cukup baik dalam hal pemenuhan judul perencanaan dan eksekusi sehingga terjadi kesepakatan secara ekslusif untuk di terbitkan.

3.      Kualitas terbitan skala mayor dan minor sama saja  tidak ada bedanya, terkadang penerbit mayor mempunyai team riset dan development, sehingga lebih fokus pemilihan materi samapai ke eksekusi pemasaran.

Pertanyaan berikutnya dari Ibu Reni di Bantaeng, apa kelebihan dari penerbit Andi sehingga bisa menjadi penerbit Mayor, dan apakah ciri khas penerbit Andi. Adapun jawaban dari Pak Edi adalah penerbit Mayor biasanya tidak tumpang tindih dalam memilih materi terbitannya, sehingga tidak begitu keras dalam  bersaing saat di pasar. Terkadang satu dengan yang lain saling mengintip , untuk mengembang lini yang sudah dirintis sebelumnya. Proyek rintisan ini cukup banyak memakan pembiayaan, dengan resiko gagal di pasar. Buku yang telah kami terbitkan saat ini banyak terdiridari buku Perguruan Tinggi dan buku SMK yang belum banyak pemainnya.

Selengkapnya narasumber menjelaskan, akan terus mengembangkan materi yang mendukung terbitan buku, dengan mengandalkan media online. Kerjasama dengan sekolah , kampus,  Intitusi dan pemerintah, untuk tetap mempertahankan terbitan penerbit Andi, sehingga indeks literasi bangsa ini tetap terjaga. Sehinggan semangat dalam menerbikan tulisan yang bapak ibu guru akan tetap menyala, walaupun mungkin medianya berubah. Tantangan bagi guru juga karena tidak sekedar menulis saja, akan tetapi dapat berdiskusi dan berinteraksi dengan saluran kanal-kanal moderen.

Demikianlah akhir resume yang ke-11 pada pelatihan Belajar Menulis Gelombang 18,  seperti uraian narasumber naskah tetap membanjir dalam masa pandemi ini, sehingga penerbit kewalahan untuk menggarapnya, artinya semangat penulis dalam meninggalkan jejak tidak akan pernah sirna, walau badai pandemi melanda buku tetap akan menjadi keabadian yang akan merekan jejak petualang sang guru di dunia tulis menulis, sebagai persembahan buat generasi yang akan datang

Judul                : Penerbit Mayor

Resume           : 11

Gelombang     : 18

Tanggal           : 28 April 2021

Narasumber    : Bapak Edi S Mulyanta, S.Si, M.T

 

Comments

Popular posts from this blog

Buku Mahkotah Penulis, Buku Muara Tulisan

Menulis Resume Untuk Jadi Buku

Buku Mahkotah Penulis, Buku Muara Tulisan