Menjadikan Menulis Sebagai Passion
Menjadikan Menulis Sebagai Passion
Malam ini ku kembali menoreskan jemari pada sebuah laptop tua yang cukup lama mendampingiku. Membuka kembali panggilan naluri untuk menulis yang terhambat selama ini. Seperti waktu lalu ku tak bisa hadir saat pelatihan ini di mulai, meskipun notifakasi whatsapp bertalu talumampir di telinga ku. Ku hanya melirik sebentar lalu meneruskan persiapan tugas pada zona integrasi. Malam makin larut mata sudah tak mampu melalak lagi, direbahan malam ku hanya membintangi poin-poin yang disampaikan narasumber.
Aku adalah peserta pelatihan belajar menulis gelombang 18, yang hasil resumenya baru terkirim sampai resume 13. Perasan sedih, galau berkecamuk saat itu melihat peserta lain sudah sampai pada resume 25, waduh bathin ku menjerit, mereka sudah sampai pada resume itu, lalu bagaimana dengan resume ku yang masih dalam dokumen. Ku cari resume 14 yang sudah ku ketik dan sudah ku edit tapi tidak menemukan hasil editan rapi yang telah ku buat, lama ku mencari dan mencari tapi tak kunjung bertemu.
Ku kontak Bu Aam sebagai moderator dan ku ceritakan aku ketinggalan, lalu beliau menyarankan melanjutkan, aku sangat bersemangat untuk mau melanjutkan tapi pelatihan itu sudah jauh tenggelam di monitor Hp, ku coba buka di laptop hasilny sama lama sekali muncunya, dan berputar-putar terus saja. Hati makin kacau haruskah aku mengulang dari awal lagi tanya ku pada hati ku.
Sementara buku Antologi pertama dan kedua ku sudah terbit, dengan judul Purwakarya Literasi dan Kisah penyemangat kalbu juga baru saja ku terima. Pada hal rencana selanjutnya aku berjanji dengan bu Kanjeng akan menerbitkan menerbitkan sebuah buku. Tanya sana tanya sini dengan bu Kanjeng dan Mr Brain, mereka menyarankan melanjutkan ya tapi itu tadi materi pelajaran pun sudah tenggelam.
Kuputuskan untuk menulis kembali di gelombang 19. Aku perlu 7 resume lagi, namun semangatku untuk menulis bukan hanya 7 resume yang akan ku capai, kalau pun sampai selesai di gelombang 19 ini 20 resume apa salahnya ku lanjut tekat ku. Kubandingkan resume pertama di gelombang 18 dan resume pertama di gelombang 19 dengan narasumber yang sama tetap mempunyai nuansa yang beda. Meskipun sudah mengikuti pelatihan menulis pada episode yang lalu sungguh ilmu itu menulis itu sangat luar biasa, terutama mendengar paparan dari Ibu Kanjeng saat itu.
Bersama Ibu Kanjeng rasanya sunguh sangat menjanjikan dengan ajakan ayo menulis buku Antologi insya allah pasti terbit semangat itu membara lagi, biarlah ku telusuri lagi ilmu menulis ini. Mengenal bu Kanjeng pada gelombang lalu, ibu hebat ini banyak memberi kesempatan yang seluas-luasnya kepada peserta pelatihan menilis di bawah asuhan Om Jay. Guru inpirator dan motivator ini membuat saya ikhlas mendaur ulang ilmunya, Menulis Menjadi Passion, inilah tema kuliah online malam ini.
Menulis menjadi Passion kalau kita maknai maksudnya tentu ada gairah dan semangat untuk menulis karena hal itu sangat kita sukai, pastinya akan punya dampak yang berbeda jika menulis itu tidak menjadi passion. Akan menjadi beban kalau pekerjaan itu tidak kita sukai. Bagaimana kita tahu apakah kita punya passion dalam menulis. Passion dalam menulis ini pun beragam ada yang senang menulis fiksi dan ada pula yang senang menulis nonfiksi. Dalam pelatihan inilah kita dilatih untuk menulis sembari melihat arah dari passion kita itu kemana. Kalau tidak berkenan mencoba untuk menulis tahu dari mana kita punya passion atau tidaknya.
Pada profesi guru yang saya tekuni sekarang ini, menuntut kita untuk bisa menulis karena ada semacam penilaian atau ada angka kredit untuk kenaikan pangkat jika kita bisa menghasilkan sebuah buku. Lebih jauhnya menulis adalah profesi yang sangat bergengsi di hormati dan di hargai secara sosial. Kemampuan seorang penulis yang baik dan di nikmati hasil dan buah karyanya, di pandang sebagai indikator intelektualitas dan kematangan berpikir. Disini di pelatihan belajar menulis ini ku mencoba untuk menggali passionku, karena ditangan dingin seorang Bu Kanjeng banyak sudah penulis pemula lahir, mudah-mudahan aku bagian dari mereka.
Mari kita renungkan banyak diantara kita yang ingin jadi penulis, seperti ku keinginan sangat menggebu untu jadi penulis, namun sering terkendala oleh tugas lain yang menanati, tidak banyak bisa terwujud untuk jadi penulis, hanya beberapa dari kita yang dapat mewujudkannya. Banyak kendala dan hambatan antara lain merasa tidak berbakat menulis, tidak memiliki waktu untuk menulis, tidak menemukan ide, tidak suka menulis, dan terakhir tidak berani menerima kritikan. Berbagai kendala dan hambatan dalam menulis lebih kepada faktor internal saja . faktor itu berupa tidak adanya motivasi dan etos yang kuat untuk menghasilkan sebuah karya tulis.
Berawal dari kata mengapa kita di haruskan untu menulis, dan bagaimana cara memulai menulis. Kedua pertanyaan tersebut lebih kepada dua hal yang berbeda yaitu mengapa lebih filosofis dan berhubungan dengan nilai, visi dan misi hidup kita di dunia. Lalu bagaimana memulai menulis lebih bersifat teknis dan jawabannya cendrung mudah di pelajari melalui proses latihan
Setiap orang mempunyai alasan yang beragam, mengapa seorang itu mau menulis ada bebagai alasan sebagai orientasinya antara lain
1. Orientasi Material : untuk mengejar uang, dan royalti fee pembicara dan semacamnya . apalagi jika berhasil menulis novel yang sampai diangkat ke layar lebar
2. Orientasi Eksistensial : mengejar popularitas dan pengakuan dari masyarakat
3. Orientasi Personal : bersifat lebih pribadi dengan tujuan untuk mencurahkan atau mengekspresikan perasaan , pengalaman atau kisah pribadi agar dapat dibaca oleh orang lain.
4. Orientasi Sosial : tujuan untuk mempengaruhi atau mengubah cara pikir masyarakat serta membangun peradaban
5. Orientasi Spiritual : dengan tujuan beribadah dan memperoleh pahala dengan mengajak pembaca melakukan hal yang baik.
Selanjutnya bagaimana memotivasi diri untuk bisa terus menulis , meraih mimpi dan akhirnya punya sebuah naskah buku, sebagaimana sebuah hadis berbunyi “sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang paling bermanfaat untuk manusia lain”. Untuk itu mari kita mulai mewujudkan dan mendorong diri kita, untuk konsisten terhadap tujuan. Pertanyaan muncul dalam diri masing-masing berapa lama waktu yang di butuhkan oleh seseorang untuk menjadi penulis jika di mulai dari titik nol. Untuk lebih jauh mari kita lihat kegiatan apa saja yang perlu dilakukan yaitu membaca, berapa banyak buku dan bahan bacaan lain yang sudah pernah kita baca, berdiskusi, berapa sering kita berdiskusi dan merenung isi buku yang pernah kita baca, melihat dan merasakan berapa sering kita mengamati dan merasakan apa yang terjadi di lingkungan kehidupan sekitar kita, sosialita seberapa luas pergaulan dan area sosialisasi kita dengan orang lain.
Bagaiman persiapan untuk menulis, kegiatan apa yang dilakukan dalam proses untuk menulis buku hingga menghasilkan sebuah naskah buku. Ada beberapa proses di dalamnya antara lain yaitu,
1. Menggali dan menemukan gagasan ide
2. Menentukan tujuan, Genre, dan segmen pembaca
3. Menentukan topik
4. Membuat outline
5. Mengumpulkan bahan materi/ buku.
Bagaimana cara menulis naskah itu sendiri, tak lain dan tak bukan adalah lakukan saja, penulis pemula sebaiknya lebih fokus pada ketekunan dalam proses menulis, menulis dengan sabar, jangan berpikir untuk sempurnanya sebuah tulisan dan jangan terlalu idealis. Bayangkan jika buku yang kita tulis best seller, kita akan menjadi penulis populer, diundang keberbagai acara, berkesempatan memiliki relasi yang lebih luas, royalti dari buku yang kita dapat. Kalau sudah demikian apa saja bisa kita lakukan , membantu orang lain dan akan bermanfaat untuk jangka panjang.
Bagaimana langkah yang harus dipahami dalam proses menulis yaitu antara lain tentukan target, disiplin yang tinggi, pembiasaan membaca, fasilitas menulis , dan tetap menjaga mood yang baik. Setelah menyelesaikan naskah dari buku yang kita tulis tahapan yang dilakukan selanjutnya adalah
1. Penyunting/ editing : membaca ulang, menyempurnakan draf
2. Revisi/ Revising : mempebaiki naskah mengevaluasikan kembali naskah untuk menihilkan kesalahan
3. Publikasi/ Publishing: mengirim naskah, pracetak, pencetakan, promo dan distribusi
Ayo jadikan menulis sebagai passion, mari kita mencoba tak ada rugi jika kita terus berlatih dan menghasilkan sebuah buku. Hasil dari sebuah buku adalah wujud dari tanda terimakasih kita kepada orang orang yang telah berjasa dalam membimbing kita menjadi seperti sekarang ini, yang bisa ditujukan kepada guru kita, orangtua kita dan anak keturunan kita. Terbitnya sebuah buku merupakan eksistensi kita di bumi ini.
Demikian hasil dari kuliah online malam ini pelatihan belajar menulis, semoga aku bisa menumbuh kembangkan passion yang sebenarnya ada pada diri ku, hal yang sangat membahagiakan ketika sebuah naskah buku hadir dalam karya kita. Besar harapan aku dapat dapat mengambil hikmah dari proses yang tertunda dan akan terus berlangsung, tiada kata untuk menyerah dan kata terlambat memulai kembali.
Judul : Menjadikan Menulis Sebagai Passion
Resume : 1
Gelombang : 19
Tanggal : 12 Juli 2021
Nara Sumber : Dra. Sri Sugiastuti M.Pd

Resume yang mantap dan keren. Salut dengan kegigihannya mengulang kelas. Semoga kali ini bisa fokus dan bukunya segera terbit. Aminn
ReplyDeletebu Aam sudah di perbaiki
ReplyDeleteResime layak jadi buku,dan kùtunggu
ReplyDelete