Konsep Buku Non Fiksi
Musiin, Mp.d narasumber pada malam ini, namanya cukup singkat, tapi tidak dengan pengalaman dan prestasinya. Sebagai penulis pemula jebolan pelatihan menulis gelombang 8, beliau menerima challenge dari Prof Eko R. Indrajit. Buku karyanya telah terbit dan sudah terpanjang pada toko buku bergengsi Gramedia dengan judul Literasi Digital Nusantara, Meningkatkan daya saing generasi muda melalui literasi karya bersama Prof Eko. Masih ada deret judul bukunya lagi dalam CV nya, Modul Pembelajaran Bahasa Inggris untuk kelas IX. Ibu Guru Bahasa Inggris di SMPN 1 Tarokan Kediri ini sudah mengajar sejak tahun 1998. Berbekal pengalaman mengajar, ini pula mengantarkan beliau menjadi Dosen di Universitas PGRI Jombang, STIE Dewantara Jombang dan tutor bagi pekerja asing di PT Chiel Jedang Jombang.
Ibu Iin panggilan akrabnya lahir di kota Tahu Takwa Kediri, ibu yang memilik hobi membaca buku, menulis, travelling dan memasak pun ternyata memiliki naluri bisnis yang mumpuni.Tak tangung-tanggung, pemilik organisasi swadaya masyarakat YAPSI, bergerak untuk kemasyarakatan, beliau juga pemilik dari PT In Jaya. Perusahaan yang di pimpinnya bergerak di bidang ekspedisi untuk pendistribusian produk Indomarcoan Indolakto di Pasuruan, PT In Jaya juga pemasok bahan baku tebu bagi pabrik gula di Madiun. Luar biasa dengan kesibukannya beliau. Namun masih bisa menyempatkan diri hadir mengisi waktu bersilancar didunia literasi. Menjadi narasumber pada malam ini mari kita saksikan tuntunan dan kiat-kiat sukses beliau.
Hal yang di takutkan oleh Bu Iin ketika menulis adalah munnculnya rasa takut, takut tidak ada yang membaca, takut salah dalam menyampaikan pendapat, merasa karyanya orang lain lebih bagus. Ketakutan itu lah membuat beliau berlama-lama merenung di hadapan laptop, tanpa menulis satu patah kata pun. Banyak cara orang menyikapi hal semacam ini buntu dalam menulis. Kalau saya, menemukan kebuntuan ini saya tinggal lalu, saya tidur, biarkan saja laptop terbuka. Pulas sekejab munjarab untuk menambah energi dan segar kembali.
Akhirnya semua ketakutan itu bisa beliau kalahkan dengan terjerumusnya beliau dalam belajar menulis Om Jay. Banyak penulis muda dan pemateri hebat hadir dalam grup menulis itu antara lain Prof R. Eko Indrajit. Semua ketakutan itu bisa dikalahkan dengan cahaya yang dipancarkan dari dalam dirinya. Berkat tangan dingin dan kolaborasi dengan Prof. R. Eko Indrajit, semua menjadi lancar dan kegiatan menulis menjadi hal yang menyenangkan.
Ibarat seorang Master Chef, demikian Ibu Iin mengumpamakan seorang Prof Eko. Memberi pilihan bahan ramuan, untuk diolah untuk disajikan. Sesuai dengan bakat dan selera kita ditambah dengan kemampuan untuk meracik. Bahan tersebut akan menjadi hidangan lezat yang siap untuk dinikmati. Bahan-bahan tersebut tersedia dan bisa diperoleh pada EKOJI Chanel milik Prof Eko. Kita semua bisa menulis sesuai dengan hobi dan bakat. Penguatan bisa kita ambil dari pengetahuan dan pengalaman. Pengetahuan dan pengalaman yang melekat dalam diri kita itulah, semisal sebuah buku yang belum diterbitkan.
Segala sesuatu kalau dilakukan dengan cinta akan menghasilkan butiran-butiran cinta yang tersebar disekitar kita. Begitu juga dengan menulis lakukan dengan cinta dan kasih, akan menghasilkan buku yang dicintai pembaca. Tanamkan dalam diri kita untuk apa sebenarnya kita menulis, apakah sekedar ikut-ikutan saja. Adakah hal yang di dapat dalam menulis, seperti Om Jay sering lontarkan pada beberapa sesi “Menulislah lalu lihat apa yang terjadi” apakah berlaku juga buat saya ?. Ada tiga alasan dari narasumber untuk menjadi penulis.
Alasan Menulis dari Ibu Iin antara lain yaitu :
1. Mewariskan ilmu lewat buku
2. Ingin punya buku karya sendiri yang terpajang di toko buku online dan offline
3. Mengembangkan profesi sebagai guru.
Semakin mencintai menulis buku ketika ingat kutipan dari Imam Ghazali dan Pramoedya Ananta Toer. Hukum tarik menarik yang dilontarkan pemateri, sangat fantastik. Rahasia alam mengatakan bahwa kemiripan menarik kemiripan. Keinginan menjadi penulis dengan hukum itu jadilah penulis. Kita tidak tahu apa yang telah menjadi kekuatan dalam diri, akhirnya bermuara pada pelatihan belajar menulis binaan Om Jay. Tantangan menulis satu minggu pun tuntas di laksanakan dengan hasil yang membahagiakan.
Dalam bahasan materi malam ini Konsep Buku Non Fiksi ada tiga pola menurut narasumber, yakni :
1. Pola Hirakis tahapan dari yang sederhana ke arah yang rumit ( Biasa ada dalam buku pelajaran)
2. Pola Prosedural berdasarkan urutan proses ( Biasa ada pada Buku Panduan )
3. Pola Kluster berdasarkan poin per poin atau atau butir per butir , biasa ada pada buku kumpulan bab antar bab posisinya setara
Narasumber memakai pola yang ke tiga yaitu poin per poin, seperti yang tergambar dalam buku beliau Literasi Digital Nusantara. Proses yang terjadi dalam penulisan buku tersebut terdiri dari 5 langkah yaitu :
1. Pratulis
2. Menulis Draf
3. Merevisi Draf
4. Menyunting Naskah
5. Menerbitkan
Untuk lebih jelasnya :
Pratulis meliputi :
1. Menentukan tema
2. Menentukan ide
3. Merencanakan jenis tulisan
4. Mengumpulkan bahan tulisan
5. Bertukar pikiran
6. Menyusun daftar
7. Meriset
8. Membuat Mind Maping
9. Menyusun kerangka
Tema cukup satu saja untuk sebuah buku, biasanya tema dari non fiksi adalah tema parenting, pendidikan, dan motivasi. Selanjutnya untuk menjadikan Tema menjadi sebuah ide pemateri biasanya mendapat ide dari pengalaman pribadi, pengalaman orang lain, berita dimedia, status seseorang di media sosial FB, Twiter, Whatsapp/ Instagram, Imajinasi, mengamati lingkungan, perenungan dan membaca buku. Dunia digital era internet lebih memudahkan kita untuk mencari ide, dunia dalam genggaman. Dunia sudah menjadi kampung kecil untuk bisa kita jelajahi demi sebuah ide. Semua bahan bisa dijadikan ide untuk menulis, tinggal kita meramunya saja seperti hidangan makanan.
Hukum tarik menarik yang di sebut diatas, jika gelora bathin membuncah untuk segera membuat buku, siapa pun dan apa pun sudah bukan kendala lagi. Meski pun beliau bukan dari orang yang berprofesi sebagai ahli informatika, berkat berbagai referensi terciptalah sebuah buku literasi Digital Nusantara. Pengalaman narasumber tentang referensi didapat dari :
1. Pengetahuan yang diperoleh secara formal, Non formal atau informal
2. Ketrampilan yang diperoleh secara formal, Non formal atau informal
3. Pengalaman dari kecil hingga dewasa
4. Penemuan yang telah ada
5. Pemikiran hasil renungan
Lalu membuat kerangka atas izin Prof Eko, lanjut pada proses penulisan yang terbagi beberapa Bab. Untuk menulis buku sangat dianjurkan membuat kerangka atau outline. Beliau memilih dan mengikuti dari Bapak Yulius Roma Patandean salah satu pemateri dalam belajar menulis ini juga. Mengikuti jejak pak Yulius baku tertata dengan rapi, indeks dan daftar pustaka tertata secara otomatis.
Untuk membuat sebuah buku perlu membuat Anatomi buku, Anatomi ini di perluka jika kita mau mengikuti ujian sertifikasi penulis. Jika memakai jalur portofolio buku yang ditulis pasti akan dilihat dan ditanya seputar Anatomi buku. Apa saja yang terkandung dalam Anatami sebuah buku, simak penuturan narasumber.
Anatomi Buku meliputi :
1. Halaman Judul
2. Halaman persemabahan (Opsional)
3. Halaman Daftar isi
4. Halaman Kata Pengantar (Opsional minta kepadaTokoh yang berpengaruh)
5. Halaman Prakarta
6. Halaman Ucapan Terimaksaih
7. Bagian atau Bab
8. Hal lampiran (Opsional)
9. Halaman gloserium
10. Halaman Daftar Pustaka
11. Halam indeks
12. Halaman tentang penulis
Langkah kedua menulis menulis Draf yang terdiri dari 2 yaitu
1. Menuangkan konsep tulisan ketulisan dengan prinsip bebas
2. Tidak mementingkan kesempurnaan, kesempurnaan tetap jadi pilihan, tetapi lebih condong pada ide menulis
Langkah ke tiga merevisi Draf termaktub dalam 2 penyajian
1. Merevisi sistematika/ struktur tulisan dan penyajiannya
2. Memeriksa gambaran besar dari naskah
Langkah ke empat, Menyunting naskah langkah(KBBI dan PUEBI) ada lima langkah dalam urutannya yakni
1. Ejaan
2. Tata Bahasa
3. Diksi
4. Data dan fakta
5. Legalitas dan norma
KBBI online sangat membantu penulis dalam penyunting naskah
Langkah ke- lima atau terakhir adalahah Menerbitkan buku.
Hal yang umum dalam proses terbitnya buku ada yang menghambat, di situlah seninya. Perjuangan untuk mencapai puncak, tidak akan indah jika tidak melalui kerikil tajam, jalan berlobang bahkan terjadi penutupan jalan. Hambatan itu adalah imunitas penulis, untuk terbit karya-karya lain. Ibu Iin Sang Multitasking sudah sangat paham akan hal itu, dan memaparkan bentuk hambatan yang akan menghalangi, apa sajakah itu.
Hambataan yang sering terjadi dalam menulis antara lain :
1. Hambatan waktu
2. Hambatan kreatifitas
3. Hambatan teknis
4. Hambatana tujuan
5. Hambatan psikologis
Bagaimana menghadapi kondisi ini, setiap orang akan berbeda strategi akan tetapi pada umumnya para penulis akan mencari suasana lain. Terutama banyak membaca, dengan membaca akan menambah perbendaharaan kita dalam menulis. Pergi ke tempat lain yang belum pernah kita kunjungi, tertib disiplin menulis. Kita alokasikan waktu pagi hari, atau jelang tengah malam saat rutinitas sudah berkurang. Bagi narasumber yang hobi memasak sangat memungkinkan ditengah pilihan resep masakan muncul ide menulis.
Akhir dari materi ini dapat kita rangkum, untuk selalu ingat tujuan kita menulis, untuk apa kita menulis. Kalah semua hal yang menghambat menulis. Bergabunglah dalam komunitas kegiatan menulis yang belakang banyak tersedia. Carilah inspirasi baru di tempat lain agar kita kembali tujuan awal menjadi penulis. Tak kalah penting seringlah membaca, membaca tulisan orang lain akan menambah pengetahuan dan ketrampilan dalam menulis. Segera kumpulkan catatan yang terserak untuk dijadikan sebuah buku.
Terimakasih moderator Om Bams yang sudah memandu acara ini, special terimakasih kepada narasumber yang dengan kerendahan hati telah berbagi ilmu dan pengalaman, semoga menjadi keberkahan buat kita semua. Salam literasi salam sehat buat guru hebat Nusantara
Judul : Konsep Buku Non Fiksi
Resume : 17
Gelombang : 19
Narasumber : Musiin, M.Pd




Sukses resumenya, Bu. Mari kita kanjut hingga terminal terakhir. Semangat!
ReplyDeleteTerima kasih bu Ros
ReplyDelete