Menguak Dapur Penerbit
Malam ini kembali belajar menulis online, pertemuan ke -11 gelombang 19. Di moderatori oleh Ibu Kanjeng panggilan akrabnya. Beliau telah memberi banyak bimbingan kepada calon penulis pemula. Senang sekali bisa mengikuti pelatihan ini. Hari demi hari ada saja hal baru kita dapati. Malam ini kita akan di perkenalkan kepada narasumber Edi S Mulyanta. Seorang yang akan membawa kita pada Topik pembahasan “Menguak Dapur Penerbit”
Beliau adalah orang yang telah malang melintang di Penerbit Andi Jogja. Profil singkatnya bisa dilihat pada https://omjaylabs.wordpress.com/2020/04/22/biodata-edi-s-mulyanta/. jika kita membaca judul dari materi ini yaitu ada kata-kata “Menguak Dapur”. Biasanya kata-kata dapur itu adalah sesuatu yang sangat pribadi. Sebagian orang berkata “janganlah itu kan rahasia dapur” ketika kita minta resep suatu produk. Ada rahasia dibalik resep sebuah produk yang tidak boleh diketahui orang lain.
Hari ini beda, seorang Edi S Mulyanta yang sudah berkecimpung di penerbit Andi, dua puluh tahun lamanya. Bersama kita akan menguak dapur penerbitnya sendiri. Dapur yang menjadi harapan dan tumpuannya. Juga harapan penulis pemula. Betapa tidak usai pelatihan akan dinyatakan lulus jika sudah menerbitkan sebuah buku solo.
Gerangan apa yang terjadi, rahasia rumah tangga Penerbit Andi akan di lucuti malam ini. Suka tidak suka Penerbit Andi harus berbagi cerita kepada kita, kepada para penulis buku. Beliu berkisah bahwa sejatinya dia adalah seorang penulis lepas, yang hidup dari menulis buku. Beliau telah membuktikan untuk menjadi seorang penulis bisa dan mampu menghidupi kehidupan ini. Namun perjalanan tidak selalu mulus, kerikil kecil sebagai sandungan pun selalu ada.
Untuk kali ini yang dirasakan beliau bukan lagi sandungan kecil, tapi badai dahsyat yang melanda semua industri. Badai covid -19 yang telah menghantam semua lini kehidupan. Tak luput Penerbit Andi kena imbas dari wabah virus ini. Walau ada perlindungan penulis dan penerbit yang tertera pada pada peraturan pemerintah no 75 . Peraturan Pemerintah membuat aturan proses penerbitan buku harus lebih cepat. Bagaimana peraturan itu membuat lebih cepat, pastinya ada aturan-aturan yang detail, bagaimana sisi penulis mengajukan naskah hingga sisi penerbit dalam mengelola naskah menjadi buku. Semacam mutualisme antara penulis dan penerbit
Namun hal itu tidak serta merta menjadi peraturan itu berjalan lebih baik. Pada era pandemi ini telah terjadi perubahan pola pendistrubusian buku secara signifikan. Dimana saluran outlet yang dahulunya menjadi jalur utama, dan favorit, sekarang ini justru sebaliknya jalur empuk itu justru menjadi korban atas keganasan virus covid -19. Ditutupnya kanal-kanal penjualan, jaringan toko buku besar di tutup, aktivitas pusat belanja dibatasi.
Di jelaskan oleh Pak Agus pada materi yang lalu, bahwa outlet buku, toko buku, penjualan sangat bagus dan sangat efektif. Setelah datangnya badai covid ini, penjualan buku mengalami penurunan. Penerbit masih menerima naskah dari penulis, begitu pula guru,selama guru melakukan Work From Home (WFH). selama Pemberlakuan Pembatasan kegiatan Masyarakat (PPKM) bapak dan ibu guru banyak menulis dan menghasilkan buku.
Tuntutan untuk tetap produktif kepada para pengajar baik guru maupun dosen, menjadikan laju naskah baru masih tetap terjaga dengan baik. Tuntutan itu menjadi penyemanagat penerbit untuk terus beproduksi. Yang menjadi kendala adalalah pada pengolahan naskah. Kendala itu mulai dari editorial, setting perwajahan dan kover hingga produksi buku cetak.
Dengan literasi yang baik kita dapat meningkatkan kemampuan untuk memaknai informasi secara kritis. Setiap orang dapat mengakses ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai upaya dalam meningkatkan kualitas hidupnya. Demikain arti makna menurut UU No 3 -2017. Sebenarnya ini adalah tanggung jawab semua insan pendidik, tidak berujung pada penerbit semata. Penerbit dan yang terkandung di dalamnya sebagai fasilitator, untuk kemajuan bersama.
Tugas penerbit adalah mendapatkan naskah yang akan diproses menjadi buku. Penerbit dengan orientasi usaha pasti akan mencari profit. Agar bisnis penerbit dapat berkembang dan meningkatkan literasi bagi masyarakat secara umum. Kita perlu juga mengetahui naskah buku dan buku yang telah dijelaskan dengan gamblang dalam UU perbukuan. Kita sebagai penulis pemula perlu mengetahui juga alur dari terbitnya sebuah buku, dengan segala permasalahannya Dengan demikian akan terbentuk harmonisasi antara penulis dan penerbit.
Tugas penulis adalah menulis dan menghasilkan naskah buku. Sesuai dengan Kriteria penerbit, yang memenuhi kriteria bagi penerbit akan di cetak dan di terbitkn. Penerbit akan mengolah naskah buku tersebut menjadi komoditas. Akan menjadi pilihan bagi guru, apakah buku ini akan menjadi buku cetak atau buku elektronik. Komoditas buku itu akan di sesuaikan dengan perkembangan zaman
Semoga kedepan, toko buku kegiatan belajar kembali normal. Dengan begitu pasar buku dapat menggeliat kembali. Saran narasumber adalah tetap mengirim usulan naskah ke penerbit-penerbit baik skala mayor maupun minor, karena peluang itu selalau ada. Sebagai guru kita dituntut menghasilkan out comes atau luaran yang berdampak, yaitu hasil tulisan buku yang ISBN, supaya ilmu kita para guru tidak hilang di telan zaman.
Imbauan penerbit kepeserta pelatihan Belajar menulis yaitu tulis rencana penulisan dengan target market yang dituju. Kalau bisa kita kasih solusi penawaran rancangan pemasaran, untuk membantu penerbit. Pemasaran era new normal sangat berbeda dengan era normal, kedepan buku-buku akan disalurkan ke era Ebook untuk media printing offline mungkin akan semakin berkurang jumlahnya kedepan media-media selain buku akan banyak menghiasi dunia pendidikan. Persiapakan hal ini dengan baik , karena akan membutuhkan keahlian yang berbeda dengan sebelumnnya.
Dengan berbagi pengalaman ini komunitas yang sesama penulis dengan tujuan yang sama, adalah wahana yang baik dalam mengelola tulisan. Bisa dikatakan komunitas pejuang literasi yang solidi seperti Om Jay dapat memberi angin segar untuk tumbuhnya penulis-penulis baru. Tidak akan mudah kecewa dan cengeng dengan penolakan penerbit. Akan terus berkarya hingga menghasilkan tulisan yang khas. Punya karakter sendiri dan tentunya akan ditunggu kehadirannya oleh pembaca dan penerbit.
Demikianlah akhir dari materi ini semoga harapan penulis dan penerbit bisa di wujudkan bersama, mencari titik idealnya. Bedamai dengan situasi yang tidak kita duga sebelumnya, hingga memporak porandakan tatanan yang sudah ada. Sebagi penulis pemula dengan kondisi covid ini akan terus berkarya, terus menulis. Akhir dari proses ini akan kita lihat dan amati, pola apa yang akan kita gunakan dengan tawaran berbagai jenis penerbit.
Judul : Menguak Dapur Penerbit
Resume : 11
Gelombang : 19
Tanggal : 4 Agustus 2021
Nara Sumber : Edi. S Mulyanta





Comments
Post a Comment