Menjadi Penulis Buku Mayor
Selamat malam, Salam literasi buat kita semua. Malam ini kegiaatan rutin kembali hadir yaitu pelatihan belajar menulis online. Pertemuan yang ke-12 gelombang 19, masih membahas seputar Penerbit Andi. Rupanya penerbit ini lagi trending dalam minggu ini. Tiga narasumber berasal dari penerbit Andi. Bersama moderator om Bams yang masih setia, dan Bapak Joko Irawan Mumpuni sebagai narasumber Lebih jauh beliau bisa kita liat pada media sosialnya
https://www.instagram.com/p/CLMPqPZDQnK/?utm_medium
Bersama Pak joko demikian disapa Direktur Penerbit Andi, kita akan mengetahui lebih dekat dengan penerbit Andi. Kita akan tahu lebih jauh bagai mana sebuah naskah dapat diterima oleh Penerbit Andi. Syarat apakah yang perlu kita penuhi agar naskah bisa diterima. Apakah sebagai penulis pemula bisa tembus pada penerbi mayor ini. Sejumlah pertanyaan tentunya sudah antri dalam benak penulis pemula.
Sebagaimana kita tahu, bahwa tidak mudah bagi penulis pemula menembus penerbit mayor. Pengalaman inilah penulis pemula mengetahui ada penerbit lain yaitu penerbit Indie. Penerbit inilah yang bisa menjawab tantangan penulis pemula untuk bisa menerbitkan buku. Bersama Direktur Penerbit Mayor, semua ketidak mungkinan itu bisa terjawab. Perlu juga kita mengetahui syarat dan ketentuan yang berlaku pada penerbit Andi, karena setiap penerbit pun juga butuh penulis.
Pengalaman beliau dua puluh tahun berkecimpung. Pada penerbit Andi, menjadi bersemangat kala membahas seputar penerbit. Bagaimana proses penerbitan sebuah buku, layak tidaknya buku itu diterbitkan pada Penerbit Andi. Sebutan penerbit mayor dan minor pun tak lepas dari bahasannya. Semua pasti paham dan mengerti tentang istilah penerbit mayor dan minor. Mayor dengan skala besar tentunya produksinya besar pengelolaan juga luas, dengan hasil jauh lebih maksimal.
Semua penulis sangat berharap naskah bukunya bisa terbit di penerbit mayor Penerbit Andi. Walau sulit tembusnya karena minat penulis setiap bulan mencapai 500 naskah. Seleksi ketat pun berlaku, akan dilihat dari segi prospeknya dalam pandangan penerbit. Akankah buku ini laku dan diminati pembaca, karena pembaca saat ini pun juga selektif dalam pemilihan buku. Jika buku itu dipandang biasa-biasa saja tentu buku itu tidak dilirik pembaca.
Bangga naskah buku kita terbit pada Penerbit Andi, 300-500 naskah buku tiap bulan masuk pada penerbit Andi, hanya 10% yang diterima, selebihnya ditolak. Naskah-naskah yang diterima oleh penerbit itu akan dikelola baik oleh penerbit. Karena skalanya besar penerbit mayor punya fasiliatas lebih baik, modal, percetakan, Sumber Daya Manusia, juga jaringan pemasaran yang lebih luas. Andaikan penulis mampu menembus penerbit mayor, royaltinya pun pasti besar, karena di kelola secara profesional.
Kita pun mengerti dan memahami kriteria dari penerbit Andi. Begitu ketatnya seleksi, tak lain karena menyangkut industri. Jumlah karyawan yang banyak pasti akan memperhitungkan keberlangsungan usaha ini.Mempertahankan mutu jauh lebih sulit, lalu bagaimana jika naskah tidak tembus penerbit Andi. Tak satu jalan ke roma begitu pepatah, masih ada penerbit Indie yang akan menampung naskah kita, dan bisa dipastikan terbit. Walau tidak menggunakan tenaga editorial, dengan membaca berulang-ulang penulis pun akhirnya menjadi editorial handal.
Produk Buku di pasar itu ada 2 jenis yaitu :
1. Teks
. 2. Non Teks.
Buku Teks terbagi dua lagi yaitu:
Buku pelajaran untuk pelajar SD, SMP, SMA, dan SMK
Buku Pelajaran untuk Perguruan Tinggi, dengan Eksak dan Non Eksak.
Ada pun buku Non Teks terbagi 2 yaitu :
1. Fiksi Contoh buku Fiksi : Sastera, Komik, Cerita Anak
2. Non Fiksi Contoh buku Non Fiksi: Buku Anak, Buku Umum Populer, Buku Komputer, Buku Hobi dan Buku Agama.
Teks Buku Pelajaran mencakup, buku anak pelajar TK, buku anak SD, buku pelajaran SMP, buku pelajaran SMA, buku pelajaran SMK, dan buku-buku latihan.
Untuk buku Teks Perguruan Tinggi Eksak meliputi Kedokteran, Perikanan, Teknik, Kehutanan, Informatika , Peternakan, Pertanian, Pertambangan, MIPA, Kelautan, Kamus, dan Teologi.
Untuk buku Teks Perguruan Tinggi Non Eksak meliputi Ekonomi, Filsafat, Hukum, Pariwisata dan Telekomunikasi, Psikologi, Pendidikan, Sosial Politik, Sosio Anthropologi, Sejarah, Komunikasi dan Kebudayaan.
Beberapa contoh Cover buku dengan judul Internet, ini buku di buat satu judul buku di tulis oleh satu penulis. Contoh Covid-19 satu judul buku, di tulis oleh lebih dari satu penulis. Contoh buku Operasi jaringan dan Domain Nama system IPVG buku ini diterbitkan dengan kerjasama banyak lembaga. Contoh buku Unicorn buku ini diterbitkan kerjasama dengan kampus. Contoh buku Kajian Literatur dan Arah Topik Riset ke Depan satu judul buku di tulis Konsorsium penulis. Artinya untuk membuat naskah buku sekarang sudah sangat mudah bisa sendiri atau kolaborasi dengan pihak dan penulis lain
Terkait dengan tulis-menulis , saat ini kita berada di posis mana, apakah kita tidak mau melakukan menulis ini, lalu untuk apa berada pada pelatihan ini. Apakah berada pada posisi saya tidak bisa menulis, hal ini tidak mungkin untuk membuat suatu tulisan, bukankah guru selalu menulis di papan tulis. Apakah berada pada posisi ingin melakukan akan tetapi tidak tahu bagaimana cara menulis. Apaka berada pada posisi saya akan coba menulis dan selanjutnya menuju posisi, saya bisa melakukan menulis ini. Inilah posisi tahap awal untuk menuju sukses menulis, jangan ragu untuk menulis menulislah, sehingga tingkat literasi negara kita bisa sejajar dengan negara lain.
Pada industri buku banyak yang akan terlibat didalamnya tidak bicara pada level penulis atau penerbit saja, mencakup banyak hal antara lain, investasi, perhitungan laba, pencetak naskah, pengarang, penterjemah, seniman, sumber modal, Bank, Literacy agen akan tetapi sentralnya tetap pada penerbit, lalu di bawah penerbit akan ada pengekspor untuk pasar luar negeri , pengiriman dengan pos, penjualan dengan langganan, distribusi masal, Rukun Baca, perkumpulan buku dan baca lainnya dengan skema yang sangat banyak cabang dan uraiannya. Indutri ini perlu kita jaga keberadaannya, karena melibatka ribuan tenaga kerja, yang bertarung mencari nafkah di dalamnya. Pada masa pandemi ini banyak aktivitas berkurang dan tenaga kerja pun juga berkurang. Pengiat literasi asuhan Om Jay kita berdayakan semua baik penulis maupun penerbit.
Ekosistem Penerbit dapat di sederahanakan menjadi Penerbit selanjutnya Penyalur, selanjutnya Pembaca, selanjutnya adalah Penulis. Saya perhatikan ekosistemnya tidak terpisahkan satu dengan yang lainnya, tanpa penulis penerbit tidak bisa berproduksi, begitu juga tanpa penerbit karya-karya tidak bisa dipasarkan. Intinya bersinerginya antara ekosistem tersebut sehingga terciptalah Industri yang mumpuni, yang menghidupkan satu sama lain.
Menghambat Pertumbuhan Industri Penerbit/ Literasi
1. Minat baca -Budaya Baca -Kurangnya Bacaan -Kualitas Bacaan
Minat baca yang rendah, budaya membaca tidak tuntas, kurangnya buku yang berkualitas menjadikan masyarakat malas berliterasi, masyarakat cendrung menonton, apalagi chanel tontonan tersedia didepan mata dan mudah di akses, berakibat sering terjadi salah komunikasi, salah pengertian, pesan yang sesungguhnya tidak sampai kepemirsa.
2. Minat Tulis -Budaya Tulis -Tidak tahu Prosedur Menulis dan Penerbit -Anggapan Yang Salah Tentang Dunia Penulisan dan Penerbitan Ketidaktahuan masyarakat awam tentang seluk beluk menulis maka terbentuklah penolakan terhadap menulis ini, jika saja informasi tentang menulis dan menerbitkan sebuah buku disampaikan secara luas dan berkesinambungan dipastikan minat menulis bagi anak-anak khususnnya akan muncul.
3. Apresiasi Hak Cipta -Pembajakan -Duplikasi Non Legal -Perangkat Hukum Masalah hak cipta menjadi momok di negeri sendiri, pembajakan buku terjadi dimana-mana, berpacunya produk orisinil dan non orisinil ditengah masyarakat. Kita harus berupaya memberi pemahaman kepada pembaca untuk selalu membeli produk asli bahan bacaan, sebagai bentuk apresiasi pembaca kepada penulis. Selanjutnya tugas pemerintah untuk memberi penguatan kepada produk hukum atas sanksi yang diberikan jika terjadi pembajakan, dengan begitu semangat menulis dan membaca akan terus ada di setiap masa. Hukum sebagai Panglima benar-benar di junjung tinggi, taat kepada hukum disetiap produk apa saja. Kita bisa mencontoh negara maju tentang hukum. Tindak tegas setiap pelanggaran dan jangan tebang pilih.
Selanjutnya slide tentang Proses Naskah Menjadi Sebuah Buku, pertama-tama penulis mengirim softcopy ke penerbit, lalu dilakukan penilaian naskah, apakah naskah di terima atau ditolak, jika ditolak akan ada pemberitahuan dan naskah di kembalikan, berikut softcopy, jika diterima pun dengan surat pemberitahuan dengan softcopy tetap ada. Lalu naskah di edit, di Setting, dan Desain Cover biar menarik minat bagi pembaca, selanjut penerbit meminta Profil penulis. Setelah itu dikoreksi komputer dan koreksi manual, lalu cetak film, cetak isi buku dan cetak cover buku, selanjutnya di jilid dan di wrapping, terakhir barulah jadi sebuah buku seterusnya di distribusikan. Dalam perjalanan walau naskah sudah diterima, jika ada yang menurut penerbit kekurangan akan di kembalikan untuk di perbaiki, demikian uraian narasumber.
Penulis harus bisa memilih penerbit yang baik misalnya visi dan misi penerbit itu jelas, memiliki Bussines core lini produk tertentu, pengalaman dari penerbit, jaringan pemasaran penerbit, lalu apakah penerbit memiliki percetakan sendiri, punya keberanian untuk mencetak jumlah eksemplar, terakhir kejujuran dalam membayar royalti, ini penting sekali bagi penulis. Semacam stimulus untuk menulis lebih lanjut bagi penulis.
Disamping itu penulis juga harus punya sensitifitas, terhadap penerbit termasuk penerbit yang diwaspadai contoh, penerbit itu bertindak sebagai broker naskah, alamat tidak jelas, tidak ada dokumen perjanjian penerbitan yang baik , tidak punya jaringan pemasaran dan distribusi sendir, tidak memiliki percetakan sendiri, prosentasi Royalti tidak wajar dan laporan keuangan tidak jelas. Hindarilah penerbit yang tidak profesional pada bidangnya, alih- alih dapat untung malah menjadi rugi, rugi dengan waktu dan uang yang sudah dikeluarkan.
Dari seorang penulis terkenal, sosok Bapak Pramudia Anantatur memberikan sebuah tulisan berbunyi “Taukah kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun ? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh dikemudian hari...”. Tulisan adalah representsi keberadaan manusia di muka bumi, jika tidak ada tulisan yang menggores, maka hilanglah keberadaan itu. Manusia akan diingat ketika ada yang di tinggalkan dimasanya, baik berupa ilmu yang bermanfaat , maupun tulisan. Untuk menjaga keberlangsungan maka menulislah, jadi sebuah naskah bukulah, agar keberadaan kita tetap abadi.
Lalu apakah yang diperoleh dari sebuah hasil karya berupa buku yaitu :
Pertama Kepuasan, terutama kepuasan bathin, ada rasa lega jika sebuah buku tuntas di kerjakan, hidup rasa penuh semangat, energi untuk selalu berkarya dan menulis terus terasah, pada akhirnya timbul rasa bahagia, sebagai anugerah yang tiada tara, dan akan sulit didapat tanpa berbuat.
Kedua Reputasi hal baik yang melekat dalam diri kita, sebagai keunggulan dan akan membanggakan bagi yang membaca buku yang telah kita buat, sebuah kehormatan jika reputasi selalu ada dalam setiap karya kita.
Ketiga Karier yaitu perkembangan dan kemajuan baik dalam kehidupan maupun dalam pekerjaan, dan itu kita lalui tahap demi tahap pada akhirnya akan sampai pada sisi puncak sesuai harapan.
Keempat Uang, imbalan dari semua yang kita peroleh berupa gaji dan tunjangan. Dalam arti penulis yang sungguh sungguh menjalan fungsinya menyampaikan ide-ide akan mendapatkan sesuatu berupa hadiah dari mana saja. Apresiasi orang lain terhadap hasil karya sebagai penulis, biasa didapat dari lomba lomba menulis.
Bagaimana sistem penilaian di penerbit, pada editorial dengan bobot 10%, pada Peluang Potensi Pasar bobotnya 50% sampai 100%, KeIlmuan dengan bobot 30%, Reputasi penulis bobotnya 10% sampai 100%
Naskah seperti apa yang akan diterbitkan oleh penerbit, diklasifikasikan pada 4 kuadran yaitu :
Kuadran pertama adalah Tema Populer, dan Penulis Populer.
Kuadran kedua Tema Populer, dan penulis Tak Populer.
Kuadran ketiga Tema Tak Populer, dan Penulis Tak Populer.
Kuadran empat Tema Tak Populer, dan Penulis Populer.
Kuadran manakah yang akan di minati penerbit yaitu kuadran pertama Tema Populer dan Penulisnya pun Populer, lalu bagaimana dengan temanya Populer tapi penulisnya tidak Populer, disini harus ada lima buku yang terus di coba sehingga dengan munculnya lima buku diterima selanjutnya buku ke enam dan buku ke tujuh pasti diterima karena lima buku di terima bagi penerbit sudah dianggap populer. Naskah buku jenis apa yang ditolak penulis yaitu Tema tidak Populer dan penulispun tidak populer, diabaikan dan tidak akan di terbitkan. Untuk itu perlu penulis punya kiat bagaimana menjadikan Tema itu Populer, perlu di ujikan pada tingkat pencarian dalam konteks Populer itu.
Bagaimana mencari sebuah tema untuk bisa diterima oleh penerbit, karena penerbit bergerak di bisnis, pastinya perhitungannya adalah profit atau keuntungan, saran narasumber adalah carilah tema tema yang trending, untuk mencari tema yang trending itu kita butuh teknologi yang namanya google trend akan muncul dalam pencarian apa yang lagi trending sekarang ini. Akan tetapi jika buku pelajaran contoh buku pelajaran Matematika penerbit bisa menerima dengan asumsi buku tersebut akan selalu dicari pembaca, ada pun jika terjadi penurunan trend itu pun tidak terlalu lama, dan akan bisa menjadi tred kembali
Demikian uraian narasumber tentang Penerbit Mayor, banyak ilmu yang sudah peserta pelatih terima, bukan hanya ilmu tentang menulis akan tetapi juga ilmu tentang bagaimana diterimanya sebuah naskah oleh penerbit Mayor. Juga ilmu pendistribusian dan pemasaran sebuah buku baik dalam negeri maupun luar negeri. Semoga materi selanjutnya lebih mampu mencerahkan para peserta pelatihan Belajar Menulis, para peserta bisa berkarya dan menghasilkan sebuah Buku.
Judul : Penerbit Mayor
Resume : 12
Gelombang : 19
Tanggal : 6 Agustus 2021
Narasumber : Bapak Joko Irawan Mumpuni












Terima kasih
ReplyDeleteTerima kasih om jay😁😁😁
Delete